Sabtu, Oktober 27, 2012

Hujan-hujanan

"Wah habis hujan-hujanan ya?" celetuk teman ngopiku melihat temenya mbonceng istrinya siang-siang dengan rambut basah. Tetangga sebelah terkekeh-kekeh, mungkin paham yang dimaksud celetukan temanku. Karena biasa guyon, teman yang diceletuki hanya tersenyum. Saya gak mendengar persis komentar balasan istrinya. Yang saya saksikan hanya tawa renyah temenku dan tetangga sebelah. Begitulah sekelumit cerita di sela-sela, saya sebagai penjaga toko dan teman ngobrol bila teman-teman mampir ke rumahku; sambil udud sambil ngopi. sekali-kali reseh positif

Senin, Maret 23, 2009

Kemarau dan Hujan Kemarin

Semuanya tergantung pada Dia. Kita hanya melaksanakan atau mengantisipasi, apakah memang dia sudah jauh meninggalkan kita. Kita sudah bersih-bersih. Segala sesuatunya sudah kita cek. Kalau masih ada yang kurang, mungkin keterbatasan kemampuan kita atau lain hal yang membuat potensi kita yang paling dalam tidak terdeteksi oleh aktifitas kita.

Dalam obrolan yang mengasyikkan yang terkadang menyita banyak waktu, mungkin akhirnya melupakan dia pada urutan paling belakang, kita sudah lupa diri walaupun ketika keriuhan itu redup dia bisa saja datang lagi.Kita akan blingsatan lagi, walaupun tadi sudah disiapkan segala sesuatunya.

Itulah yang terjadi kemarin, kalau kabar bahwa kita sudah merelakan kepergian hujan dan tak perlu lagi ditangisi, nyatanya dia tiba-tiba datang: BRESSS!! Hujan terjadi disertai angin. semuanya menjadi basah.

Kemarau entah kemana tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi, baru saja ada yang menyampaikan kalau kemarau titip panas dan sumuk alias gerah alias kemringet. Nah lho berarti dia tidak jauh dari kita berada..[dip09]

Jumat, Maret 20, 2009

Terik Matahari Di awal Kemarau

Matahari berdiri tegak dengan tegas setelah beberapa lama digempur mendung diringkus awan gelap.Tapi matahari tetap berdiri tegak sembari suaranya tak terasa sudah menembus ke segala sudut hidupku.

Sekarang, matahari tak lagi gamang. Kemarau sudah suka cita menyambutnya. Ini bukan soal suka dan tidak suka. Waktulah yang akhirnya menyampaikan hal ini, bahwa hujan tak perlu lagi ditangisi kepergiannya.

Lihatlah debu-debu sudah menyoraki kita, agar peperangan terus dilanjutkan. Lawan tanding kita sudah bersiap-siap menanti kedatangan kita.

Terompet peperangan kemudian dibunyikan, terdengar ke seluruh negerimu. Bersiaplah....sebentar lagi korban-korban bergelimpangan...

berita-berita dikabarkan....

kemarau sudah ada di depan mata...

Selasa, Februari 10, 2009

Menyalakan Lampu di pinggir Hutan

(Hanya catatan) Pagi tadi (10/2/09), ketika hendak ke pasar yang musti melewati jalan hutan. Aku menemukan acara, yang mungkin di kalangan umum tidak lazim. Mereka memakai seragam krem bawahannya hijau. Di beberapa petak ada satu batang pohon jati terbujur kaku.Tenda warna putih dengan garis biru terbentang rapi.Ada kursi ditata rapi. Di seberang jalan, mobil-mobil dan motor-motor di parkir.Persis di pinggir jalan agak jauh dari tenda ada motor diesel untuk menghidupkan sound system. 

Ketika aku lewat, agaknya acara tersebut sudah dimulai. Itu bisa dilihat dari penuhnya kursi yang disediakan. Dari aksesoris tendanya, persepsi orang pertama mungkin; apakah ada acara pernikahan di pinggir hutan. Tetapi, dilihat dari semua yang hadir memakai pakaian seragam agaknya acara tersebut diperuntukkan untuk para pegawai perhutani.

Sepanjang perjalananku menuju pasar, pikiranku berkelebat untuk berkomentar, paling tidak sedikit apresiasi bahwa acara tersebut sangat bagus untuk penyegaran pikiran. Dan inilah mestinya yang dikembangkan oleh para abdi negara dinas perhutani 'menyalakan lampu di kegelapan hutan carut marut indonesia.

Sabtu, Februari 07, 2009

Lampu Mati

Lampu mati di malam hari. Sungguh menjengkelkan kalau kita belum menyiapkan segala sesuatunya. Lilin, lampu teplok atau genset yang kehabisan bensin. Apalagi bila posisi kita sedang browsing di dunia maya, tentu hati kita seperti disentak bahwa mati lampu telah merampas segala aktifitas yang mungkin sangat penting.

Apa yang bisa kita petik dari kejadian lampu mati ini. Tak ada yang bisa dipetik detik itu kecuali kita membuat kericuhan kecil dalam rumah. Setelah mulai menyala dengan cahaya darurat, baru kita bisa melihat semua; bahwa kita masuk dalam alam kegelapan. Apa jadinya manusia tidak bisa menggunakan alat pikirnya. Tentu, kita terus dalam alam kegelapan dalam semua segi kehidupan.

Lampu mati adalah juga pancaran cahaya di sebuah labirin yang sangat panjang.Lampu mati membuat kita terus bergerak mencari. Jangan sampai berhenti. Lampu mati mengajarkan kita harus terus introspeksi diri. Ke depannya langkah kita tidak tersaruk-saruk terus menerus dalam alam kegelapan.

Siapa pun bila mengalami lampu mati, kemanusiaan kita akan terusik. Kecuali mereka yang hanya menikmati kegelapan sebagai kegelapan.

Rabu, Januari 14, 2009

Lampu yang dinyalakan

Lampu harus segera dinyalakan, sebentar lagi gelap sebentar lagi hujan sebentar lagi banjir. Ini yang sedang aku gerakkan sepanjang hari ini agar sesuatu yang aku perjuangkan tidak lindap begitu saja.Dunia di kepalaku sudah seperti di udara jalur gaza, meluncur meledak!

Tidak ada gencatan senjata di kepalaku saat ini. Inginnya terus menyalakan setiap petak rumah di sudut sel-sel darahku yang bertebaran di lengan, kaki, mata dan seluruh sudut tubuhku. Jangan pernah meredup wahai para pejuang! Enyahkan segera agresor yang tak kenal perikemanusiaan, kita masih punya lampu-lampu.. 

Kamis, Januari 08, 2009

Salam hangat buat semua, sebenarnya sebelum listrik mati tulisanku hampir dua alinea. Ini aku coba menulis lagi. Memang agak susah, bila sel-sel otak lama terpendam, sekarang mulai bangkit dari kubur, tangan sudah bisa digerakkan. Sel-sel berdenyaran seperti kunang2 di malam hari atau laron-laron sehabis hujan panjang...

Perlahan tapi pasti, aku mulai menemukan kembali sentuhanku. Menulis adalah sebuah perjalanan panjangku. Aku seperti menemukan atau bertemu tak sengaja pada sebuah 'teman lama', sel-selku seperti mencari sendiri memori mana yang menarik buat ditampilkan di blog ini. Ada sebuah layar besar menyala, menampilkan sosok berambut kucel dengan pakaian sedikit basah bekas keringat turun dari buskota di perempatan lampu merah patangpuluhan jogjakarta. Di pinggir lampu merah di seberang losmen, kalau tidak salah waktu itu, ada warung makan kecil, sosok itu mampir di situ...memesan minuman, kemudian duduk memandang jalan. Tak sengaja ada seorang tua berkacamata lewat, ia langsung tersenyum pada sosok tersebut. Mereka kemudian berjabat tangan, pak tua itu akhirnya masuk pada dunia si sosok itu. Terlibat percakapan panjang. Pergulatan yang tak terduga, sebuah ilham meletup dari warung itu...entah di mana sekarang tulisan itu disimpan.

Itu hanya salah satu layar yang tiba-tiba menyala, aku hanya ingin mengucapkan rasa syukur bahwa bikin blog bisa membuat sel yang terkubur ratusan tahun bisa bangkit kembali. inilah sekarang yang ingin kumulai!