Senin, Maret 23, 2009

Kemarau dan Hujan Kemarin

Semuanya tergantung pada Dia. Kita hanya melaksanakan atau mengantisipasi, apakah memang dia sudah jauh meninggalkan kita. Kita sudah bersih-bersih. Segala sesuatunya sudah kita cek. Kalau masih ada yang kurang, mungkin keterbatasan kemampuan kita atau lain hal yang membuat potensi kita yang paling dalam tidak terdeteksi oleh aktifitas kita.

Dalam obrolan yang mengasyikkan yang terkadang menyita banyak waktu, mungkin akhirnya melupakan dia pada urutan paling belakang, kita sudah lupa diri walaupun ketika keriuhan itu redup dia bisa saja datang lagi.Kita akan blingsatan lagi, walaupun tadi sudah disiapkan segala sesuatunya.

Itulah yang terjadi kemarin, kalau kabar bahwa kita sudah merelakan kepergian hujan dan tak perlu lagi ditangisi, nyatanya dia tiba-tiba datang: BRESSS!! Hujan terjadi disertai angin. semuanya menjadi basah.

Kemarau entah kemana tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi, baru saja ada yang menyampaikan kalau kemarau titip panas dan sumuk alias gerah alias kemringet. Nah lho berarti dia tidak jauh dari kita berada..[dip09]

Jumat, Maret 20, 2009

Terik Matahari Di awal Kemarau

Matahari berdiri tegak dengan tegas setelah beberapa lama digempur mendung diringkus awan gelap.Tapi matahari tetap berdiri tegak sembari suaranya tak terasa sudah menembus ke segala sudut hidupku.

Sekarang, matahari tak lagi gamang. Kemarau sudah suka cita menyambutnya. Ini bukan soal suka dan tidak suka. Waktulah yang akhirnya menyampaikan hal ini, bahwa hujan tak perlu lagi ditangisi kepergiannya.

Lihatlah debu-debu sudah menyoraki kita, agar peperangan terus dilanjutkan. Lawan tanding kita sudah bersiap-siap menanti kedatangan kita.

Terompet peperangan kemudian dibunyikan, terdengar ke seluruh negerimu. Bersiaplah....sebentar lagi korban-korban bergelimpangan...

berita-berita dikabarkan....

kemarau sudah ada di depan mata...